Senin, 15 Agustus 2011

Global environmental impacts of agricultural expansion: The need for sustainable and efficient practices

The recent intensification of agriculture, and the prospects of future intensification, will have major detrimental impacts on the nonagricultural terrestrial and aquatic ecosystems of the world. The doubling of agricultural food production during the past 35 years was associated with a 6.87-fold increase in nitrogen fertilization, a 3.48-fold increase in phosphorus fertilization, a 1.68-fold increase in the amount of irrigated cropland, and a 1.1-fold increase in land in cultivation. Based on a simple linear extension of past trends, the anticipated next doubling of global food production would be associated with approximately 3-fold increases in nitrogen and phosphorus fertilization rates, a doubling of the irrigated land area, and an 18% increase in cropland. These projected changes would have dramatic impacts on the diversity, composition, and functioning of the remaining natural ecosystems of the world, and on their ability to provide society with a variety of essential ecosystem services. The largest impacts would be on freshwater and marine ecosystems, which would be greatly eutrophied by high rates of nitrogen and phosphorus release from agricultural fields. Aquatic nutrient eutrophication can lead to loss of biodiversity, outbreaks of nuisance species, shifts in the structure of food chains, and impairment of fisheries. Because of aerial redistribution of various forms of nitrogen, agricultural intensification also would eutrophy many natural terrestrial ecosystems and contribute to atmospheric accumulation of greenhouse gases. These detrimental environmental impacts of agriculture can be minimized only if there is much more efficient use and recycling of nitrogen and phosphorus in agroecosystems.
The agricultural achievements of the past 35 years have been impressive. Grain production, mainly from wheat, rice, and maize, has increased at a rate greater than human population. This has decreased the number of malnourished people even as the earth’s human population doubled to 5.8 billion. Although the estimates vary widely, world population is projected to increase about 75% before leveling off at about 10 billion. In combination with increasing demand for meat in developing countries and the use of grains as livestock feed, this increased population density should cause world demand for grain production to more than double. This raises several important questions. If it is possible for world food production to double, again, within the next four or five decades, what impacts would this doubling have on the functioning of the nonagricultural ecosystems of the world, and on the services they provide to humanity? What routes might be used to decrease such impacts? I explore these questions first by asking what the global ecological impacts of “more of the same” agriculture might be, and then by considering practices that might decrease such impacts. In particular, insights are sought in the parallels between natural and agricultural ecosystems, but no easy answers are uncovered. Rather, a new long-term, multidisciplinary research program is needed to develop agricultural methods that can feed a growing world and still preserve the vital services provided to humanity by the world’s natural ecosystems.
Current agricultural practices involve deliberately maintaining ecosystems in a highly simplified, disturbed, and nutrient-rich state. To maximize crop yields, crop plant varieties are carefully selected to match local growing conditions. Limiting factors, especially water, mineral nitrogen, and mineral phosphate, are supplied in excess, and pests are actively controlled. These three features of modern agriculture—control of crops and their genetics, of soil fertility via chemical fertilization and irrigation, and of pests (weeds, insects, and pathogens) via chemical pesticides—are the hallmarks of the green revolution. They have caused four once-rare plants (barley, maize, rice, and wheat) to become the dominant plants on earth as humans became the dominant animal. Indeed, these four annual grasses now occupy, respectively, 67 million hectares, 140 million hectares, 151 million hectares, and 230 million hectares, each, worldwide, which is 39.8% of global cropland. For comparison, the total forested area of the United States, including Alaska, is 298 million hectares. Entire regions of the world now are dominated by virtual monocultures of a given crop. These monocultures have replaced natural ecosystems that once contained hundreds to even thousands of plant species, thousands of insect species, and many species of vertebrates. Thus, agriculture has caused a significant simplification and homogenization of the world’s ecosystems.
It is as difficult to predict the future of agriculture now as it would have been to anticipate, in 1950, the successes and impacts of the green revolution. However, some insights may be provided by an analysis of the broad trends that occurred during the recent doubling of global food production. These trends may give some insight into the global environmental impacts that the anticipated second doubling of agricultural productivity may have. Next, I consider insights that ecology may offer into the sustainability and stability of agricultural ecosystems. Finally, I pose the major environmental challenges that face humanity as global human population and demand for food continues to increase.


Jumat, 22 Juli 2011

Tim SBL SMK Negeri 3 Kuningan

Ketua : H. Saepuloh, S.Pd
Divisi K7 : Masdenovel, S.Pd. , M.Pd
Divisi K7 : Drs. Edi Cahyadi
Divisi Lingkungan Hidup : Nurul Iman Rojaby, S.Si.





Dalam penerapannya, untuk menjadi sebuah sekolah memiliki budaya lingkungan maka diperlukan beberapa unsur penting yaitu :
a. Pengembangan Kebijakan Sekolah
Perlu dikembangkan sebuah atau beberapa kebijakan sekolah yang mendukung konsep sekolah berbudaya lingkungan antara lain:
  • memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di lingkungan lu ar sehingga belajar tidak selalu berlangsung di lingkungan sekolahnya sendiri
  • memfasilitasi terbentuknya simpul belajar non sekolah yang ramah kepada siswa misalnya melakukan pembelajaran di taman kota, RTH (ruang terbuka hijau), rumah sakit, pertokoan, pasar, bank, perkantoran, desa terpencil, serta mengakses masyarakat
  • memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengembangan potensi diri melalui seminar, lokakarya, pelatihan-pelatihan
  • mendukung siswa yang tidak mampu untuk tetap berprestasi melalui jalur teman atau orang tua asuh
  • marginal menyediakan nara sumber dari luar
b. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
Banyak kegiatan sehari-hari yang dapat dikaitkan dengan kurikulum di sekolah. Salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang dapat dilaksa nakan adalah implementasi dari beberapa kolaborasi mata pelajaran. Implementasi tersebut dapat dilakukan di luar lingkungan sekolah misal nya di sebuah desa atau kawasan tertentu dengan maksud dapat memberikan suasana berbeda dan menyenangkan serta memberikan pengalaman baru bagi siswa. Melalui sekolah alam, diharapkan siswa dapat belajar dari apa yang dia lihat, apa yang dirasakan serta apa yang ditemukannya di lingkungan. Dengan model pembelajaran bermakna seperti itu maka konsep-konsep yang ditemukan siswa selama proses pembelajaran dapat mempengaruhi daya retensinya. Pemahaman terhadap suatu konsep melalui pembelajaran di sekolah alam akan memiliki sifat dapat bertahan lebih lama atau bersifat meningkatkan daya retensi siswa. Kondisi tersebut pada kenyataannya dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki siswa.
Ketika siswa melalui pembelajaran melakukan aksi lingkungan berupa penanaman, maka di samping siswa terampil melakukannya (vocational skill) juga didapati kemampuan siswa untuk mengenal lebih dalam struktur anatomi maupun fisiologis tanaman tersebut. Selain itu dengan teknik belajar di lingkungan, diharapkan akan terbentuk jiwa -jiwa yang memiliki kesadaran tinggi terhadap permasalahan lingkungan. Generasi yang kreatif, inovatif dan peka terhadap isu-isu lingkungan akan tercipta dengan sendirinya.
Beberapa aksi lingkungan yang dapat dilakukan siswa dalam konsep sekolah berbudaya lingkungan antara lain:
  • kegiatan penghijauan
  • bakti sosial lingkungan
  • jalan sehat
  • kerj a bakti lingkungan
  • melakukan konservasi lahan dengan penanaman
  • pemeliharaan tanaman
  • pemanfaatan kebun bibit
  • Penambahan koleksi kebun sekolah untuk proses pembelajaran keanekaragaman hayati
  • Perbanyakan tanaman untuk melatih life skill
  • Konservasi flora & fauna
  • pengenalan konsep konservasi
  • implementasi PLH
  • melaksanakan ”Gugur Gunung” atau bedol sekolah
  • monitoring dan evaluasi.
  • penilaian antar kelas.
  • lomba barang bekas
  • mengembangkan produk olahan bahan sekitar
  • mengadakan pameran produk kreasi siswa
Dalam pelaksanaan program gugur gunung, tidak hanya siswa yang mengikuti kegiatan tersebut tetapi seluruh komponen sekolah wajib ikur serta dengan tujuan memberikan bekal life skill baik kepada siswa, guru, karyawan dan pesuruh. Melalui kegiatan seperti itu, diharapkan seluruh warga sekolah dapat memiliki pemahaman yang sama tentang visi dan misi sekolah.
c. Pengembangan Kegiatan Partisipatif
Untuk membangun sebuah komitmen menjadikan sekolah berbudaya lingkungan, maka peran stake holder tidak dapat diabaikan. Perlunya melibatkan peran serta aktif komite sekolah untuk mendukung semua kegiatan.
Keterlibatan komite sekolah dalam bentuk:
  • pendanaan
  • dukungan atau support dalam pelaksanaan program-program sekolah misalnya kegiatan implementasi mata pelajaran, pembelajaran di alam dan sebagainya
  • keterlibatan secara langsung dalam aktivitas sekolah
  • mediasi antara sekolah dengan instansi terkait atau dengan pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha
  • keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran, mengevaluasi pelaksanaan program-program sekolah, monitoring seluruh kegiatan sekolah
  • mendorong akreditasi sekolah untuk mencapai sekolah bermutu
  • mendorong pelaksanaan sertifikasi guru guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui aset guru yang profesional
  • mendorong sekolah untuk menyajikan program pendidikan yang lebih beragam dan relevan
  • dukungan untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan terdekatnya sehingga siswa mampu menangani semua isu lokal disekelilingnya
d. Pengembangan Pengelolaan Sarana Prasarana
Dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan, pengelolaan sarana prasarana menjadi sesuatu yang sangat penting. Penggunaan dan pengadaan atau pengembangan sarana prasarana yang efektif dan efisien serta tepat guna harus menjadi acuan utama.
Untuk mendukung terciptanya sekolah berbudaya lingkungan maka konsep berikut perlu diterapkan di sekolah, yaitu:
  • melakukan penghematan semua sumber daya di sekolah, listrik, air
  • penghematan penggunaan alat tulis kantor
  • pemanfaatan barang bekas untuk pembuatan media pembelajaran
  • pengelolaan sarana prasarana yang tepat guna
  • pengelolaan sarpras secara efisien dan efektif

Senin, 04 Juli 2011

SBL SMKN 3 vs MADING SMKN 3


Behold... What is this???.. Mengapa mading smkn 3 seperti ini tidak sesuai dengan lingkungan sekolah yang berbudaya lingkungan dan sudah tertata rapi tapi mading begitu tidak terurusnya seakan-akan seperti rumah yang tak berpenghuni. Akankah mading sekolah ini akan tetap seperti itu tak akan ada perubahan sedikitpun dari pihak ekskulnya.. terhadap coordinator ekskul mading yang saat ini dipegang oleh saudara Dadang Hermawan tolong anda aktifkan kembali mading sekolah jangan kau biarkan mading ini terbengkalai hanya karena sesuatu hal.. aktifkan kembali semua personil mading yang sudah dibentuk dan fokuskan lagi tema – tema yang akan diinfokan kepada semua warga kampus smk negeri 3 kuningan. andai anda tahu betapa peserta didik smk negeri 3 kuningan haus akan informasi khususnya informasi tentang Lowongan Pekerjaan yang membuat kita semangat dalam menggapai keberhasilan...
Saya juga dengar – dengar dari Program Keahlian Teknik Multimedia akan mengisi mading sekolah dengan designer – designer siswa yang ok.. tpi sya lihat belum tempak di mading sekolah sebagaimana dapat dilihat mading sekolah masih sangat bahkan lebih dari sangat kosong.. bahkan namanyapun tidak lengkap seharusnya KUNINGAN mengapa jadi KUNI????
Bisa anda lihat secara seksama disana tertera judul mading tentang Info Lingkungan Hidup,, tapi mengapa para siswa khususnya mading mengisi bagian itu dengan pengumuman futsal??? apa tidak salah ini??? seharusnya kan informasi itu seputar lingkungan hidup tapi mengapa jadi seputar berita olah raga...tidak hanya itu banyak sekali perbedaan antara mading sekolah dengan lingkungan sekolah,,, lingkungan sudah nyaman dan ruang teori jauh dari kebisingan tapi yang disayangkan adalah informasi untuk kemajuan intelektual para peserta didik sangat kurang, apalagi saat ini sedang PPDB..

Lihatlah lingkungan Kampus SMKN 3 begitu nyaman sehingga membuat orang tua peserta didikpun tidak merasakan ketidaknyamanan saat menunggu putra/putrinya dibagi kelas dan bahan untuk pakaian seragam Pakaian Khusus dan PSAS.. tidak hanya itu lingkungan yang nyamanpun membuat siswa yang sedang berada di sekolah walaupun hari liburmerasa nyaman... kebersihan dan kenyamanan lingkungan smkn 3 ini tidak lepas dari pengawasan koordinator SBL yakni pak H. Saepuloh, S.Pd yang begitu rajin dalam melakukan kebersihan agar tercipta kenyamanan saat masuk ke wilayah kampus.

Kebersihan di SMKN 3 dilakukan oleh warga SMKN 3 Kuningan yang mempunyai tugas untuk melakukan kebersihan,, juga dibantu oleh personil BIL (Bedenks Indah Permai) yakni para siswa yang tinggal di sekolah... selain kebersihan Masjid kebersihan lingkungannyapun sangat diperhatikan karena lingkungan yang bersih akan membuat kita yaman daklam melakukan aktifitas dan kegiatan ibadah sehari - hari..




mading utama yang tidak terorganisir keberadaannya.... masa namanya kuni???
4 kotak sama sekali tak ada isinya...
mading yang berada di masjid lebih terkondisikan...

tak ada tema yang kosong...
orang tua peserta didik tengah menunggu putranya pembagian kelas.
alumni lulusan 2010 yang telah bekerja di PT YUTAKA
Semoga dengan adanya saran dan bukti - bukti ini semua pihak yang terlibat bisa kembali menghidupkan kembali mading SMKN 3 Kuningan agar seimbang dengan suasana lingkungan yang nyaman dan sejuk....

Definisi Sekolah Berbudaya Lingkungan



PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
SEKOLAH BERBUDAYA LINGKUNGAN ( SBL ) PADA SEKOLAH MENENGAH  KEJURUAN
 International :
GREEN SCHOOL  / Sekolah Hijau

  Indonesia :    (SBL)
“SEKOLAH BERBUDAYA LINGKUNGAN”

Program BPLHD (Badan pengendalian Dampak Lingkungan) Prop. Jabar :
“ECO CITY”

Program Propinsi Jawa Barat
“ADIWIYATA”

Green School/SBL
-  Program penataan lingkungan sekolah
-  Penghijauan
-  kebersihan sekolah & lingkungan
-  kesehatan lingkungan sekolah
-  keselamatan kerja
-  Greening the curriculum : pengintegrasian  
    materi LH ke dalam materi kejuruan
-  Pengelolaan & Pengolahan sampah/limbah
-  Pemberdayaan/pemanfaatan (daur ulang
    limbah)
-  kemitraan antar sekolah dan lingkungan
    sekitarnya

Lomba SBL Tingkat Jawa Barat
          Mulai tahun  2004 kerjasama antara unit PLH dan BPLHD (Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah) Propinsi Jawa Barat, LPMP, Dinas Pendidikan Propinsi Jabar dan Dinas/Badan Lingkungan Hidup Daerah
          Menyelenggarakan lomba SBL se Propinsi Jawa Barat, untuk tingkat SMP, SMA dan SMK (teknologi dan non teknologi)
          Penyusun instrumen :  -  unit PLH-PPPGT Bandung
                                                            -  LPMP Cimahi
                divalidasi :   BPLHD, Dinas Pendidikan, PPPGT Bandung, LPMP Cimahi, UPI dan Dinas LH
Kriteria Penilaian SBL
Penataan Lingkungan Sekolah :
          Perbandingan building coverage (lahan tertutup bangunan) dgn ruang terbuka hijau : 40 % bangunan, 60 % ruang terbuka hijau
          Pengaturan daerah bising (pencegahan kebisingan bagi ruang2 anti bising)
          Pengaturan pencahayaan ruang (kelas, bengkel, kantor, perpustakaan, km & wc, kantin, kopsek)
          Pengaturan sirkulasi udara (adanya cross ventilation, perbandingan luas lantai dgn letak daerah bukaan)
          Tata letak alat bahan di bengkel (sesuai urutan pekerjaan)
           
PENGHIJAUAN
          Penempatan tanaman sesuai fungsinya (peneduh, pengarah jalan, penyaring polusi, peredam suara, penetralisir zat pencemar CO2/CO dll, filter sinar ultra violet, resapan air)
          Tanaman toga (tanaman obat keluarga)
          Tanaman keras
          Sumur resapan air hujan
          Kreatifitas pengaturan taman
          Pengaturan perawatan
          Tanaman hidup di ruang2 (kantor, kelas, bengkel, halaman, km & wc, kantin) & sekitarnya
          Tanaman hidup di bengkel terutama bengkel Otomotif yg banyak mengeluarkan gas CO2/CO dan atau lab. kimia
          Setiap orang memerlukan 0.5 kg Operhari
          Satu pohon menghasilkan 1.2 kg O2 perhari
BERARTI : Menebang 1 pohon    =   Mencekik 2 orang
KEBERSIHAN
          Kebersihan semua ruang kantor
          Kebersihan semua ruang kelas
          Kebersihan semua ruang bengkel /lab. (luar & dalam)
          Kebersihan semua ruang km & wc (siswa & guru)
          Kebersihan gudang alat
          Kebersihan ruang guru
          Kebersihan semua saluran pembuangan
          Kebersihan ruang dapur
          Kebersihan halaman sekolah
          Kebersihan kantin
          Ketersediaan air bersih (kuantitas & kualitas air bersih)
          Kebersihan ruang osis & koperasi siswa
          Kebersihan ruang praktek
          Kebersihan ruang cuci alat praktek
KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA
          Adanya penghisap debu
          Adanya rambu2 kesehatan & keselamatan kerja
          Adanya slogan2 lingkungan utk media pembelajaran siswa
          Adanya alat2 keselamatan kerja (berfungsi & difungsikan dgn baik)
          Pengaman bagi siswa terhadap radiasi komputer
          Tersedianya air tempat cuci tangan
          Pencahayaan yg baik bagi siswa di ruang kelas
          Sirkulasi udara yg baik di kelas
          Rotasi tempat duduk siswa di kelas
          Adanya pemadam kebakaran di setiap bengkel & laboratorium
GREENING THE CURRICULUM
Ø   Pengintegrasian materi lingkungan ke dalam materi  kejuruan
Ø   Guru hrs kreatif dlm mengintegrasikan materi lingkungan yg sesuai dgn topik yg diajarkan
Ø   Guru harus aktif dlm mencari materi lingkungan yg berkaitan dgn topik yg diajarkan (melalui internet, radio,  majalah, buku2, menghubungi PPPG/PT terdekat atau  instansi yg berkaitan –  BPLHD, Bapedalda, dsb)
Ø   kreatif dan tanggap dlm melihat issue2 aktual dan kemajuan teknologi (tidak terpaku pada kurikulum)
Ø   Guru harus aktif memperingatkan siswa dlm melesta rikan lingkungan sebagai penunjang pembelajaran
Ø  Guru harus peduli terhadap kondisi lingkungan sekitarnya, baik di sekolah maupun rumahnya
Ø  Selalu mengkaitkan permasalahan lingkungan pada setiap kegiatan pembelajaran (kurikuler & ekstra kurikuler)
PENGELOLAAN & PENGOLAHAN SAMPAH/LIMBAH
Ø  Ada pemilahan sampah sesuai jenis sampah (organik & anorganik) dari setiap ruang (kantor, bengkel, laboratorium, ruang praktek
Ø  Ada jadwal program kebersihan rutin
Ø  Ada upaya mengolah sampah organik menjadi kompos/pupuk alami
Ø  Pemanfaatan bahan bekas (Pembuatan kerajinan, media pembelajaran siswa)
Ø  Ada lahan khusus utk pengolahan sampah/limbah
          Ada pengolahan limbah cair (IPAL) bagi bengkel, lab, salon, ruang praktek yg mengunakan bahan2 kimia
          Adanya pemilahan/penampungan bahan2 kimia berbahaya dan diberi label/tanda bahaya
          Ada upaya perlindungan terhadap bahaya radiasi komputer dan alat2 lainnya
KEMITRAAN
Ø  Adanya kegiatan yg melibatkan masyarakat lingkungan sekitar sekolah (radius 200 mtr) : kantor, bengkel, toko, pasar, RT/RW, dsb
Ø  Kegiatan2 siswa yg berkaitan dgn lingkungan dan melibatkan masyarakat lingkungan sekitar

Minggu, 03 Juli 2011

SMK Negeri 3 Kuningan - PT Astra Daihatsu Motor

Sebuah kebanggaan bagi warga SMK Negeri 3 Kuningan, karena SMK Negeri 3 Kuningan telah menjadi sekolah Berbasis Industri dan mulai menerapkan semua kebiasaan yang ada di industri yang diadop menjadi School Habit di sekolah dari Work Habit di Industri .. Work Habit ini diadop oleh SMK Negeri 3 Kuningan dari PT Astra Daihatsu Motor  yang tengah melakukan study banding tempo hari, dalam hal ini SMKN 3 Kuningan telah bekerja sama dengan PT ADM dalam Program Pintar Bersama Daihatsu.


Kita harus bersyukur bisa bersekolah di sekolah berbasis industri karena disini kita dibiasakan berada dalam ruang lingkup perusahaan, misal saat kita menemukan sampah maka kita harus secara fleksibel untuk mengambil sampah tersebut dari jalan dan dibuang ke tempatnya seperti itulah kebiasaan yang ada di PT ADM.

Berikut ini adalah photo Managemen SMK Negeri 3 Kuningan 
saat melakukan Study Banding Ke PT Astra Daihatsu Motor di Jakarta



PT ADM adalah perusahaan yang telah menerapkan Sistem Work Habit dalam perusahaannya sehingga tidak hanya Hard Skill melainkan Soft Skillpun sangat dibutuhkan dalam bekerja di industri. 

Penghargaan SBL dan Adiwiyata

Penerima Penghargaan SBL Tahun 2004
1. SMAN 1 Mandirancan Kabupaten Kuningan
2. SMAN Jasinga Kabupaten Bogor
3. SMKN 1 Kota Sukabumi
Catatan : Kriteria penilaian SMA & SMK sama, tidak ada pemisahan kategori antara SMA & SMK
Penerima Penghargaan SBL Tahun 2005
n  Kategori SMP
                1. SMPN 2 Cibinong Kabupaten Bogor
                2. SMPN 1 Sumber Kabupaten Cirebon
                3. SMPN 5 Kota Bandung
n  Kategori SMA
                1. SMAN 1 Kadugede Kabupaten Kuningan
                2. SMAN 1 Kabupaten Cianjur
                3. SMAN 1 Cimalaka Kab. Sumedang
n  Kategori SMK
                1. SMKN 2 Kota Sukabumi
                2. SMKN 1 Kabupaten Bogor
                3. SMKN 7 Kota Bogor
Penerima Penghargaan SBL Tahun 2006
n  Kategori SMP
                1. SMPN Luragung
                2. SMPN 7 Bandung
                3. SMPN 5 Sukabumi
n  Kategori SMA
                1. SMAN 2 Kuningan
                2. SMAN 7 Bekasi
                3. SMAN 1 Depok
n  Kategori SMK
                1. SMKN 3 Kota Sukabumi
                2. SMK MANDIRI
                3. SMKN 2 Purwakarta
                4. SMKN 1 Losarang
                5. SMKN 1 Cibinong
                6. SMKN YPPT Tarogong Kidul
Penerima Penghargaan SBL Tahun 2007
n  Kategori SD
                1. SDN Ibu Dewi 5 Cianjur
                2. SDN 1 Wangunharja Cirebon
                3. SDN Kapandean Indramayu
                4. SDN Bantarjati 9 Bogor (Peduli)
n  Kategori SMP
                1. MTsN Purwakarta
                2. SMPN 10 Sukabumi
                3. SMPN 1 Cikoneng Ciamis
                4. SMPN 2 Susukan Lebak Cirebon (Peduli)
n  Kategori SMA
                1. SMAN 2 Kota Sukabumi
                2. SMAN 3 Purwakarta
                3. SMAN 3 Ciamis
                4. SMAN 1 Ciawigebang Kuningan (Peduli)

n  Kategori SMK Bidang Teknologi
                1. SMKN 2 Subang
                2. SMKN 1 Katapang Bandung
                3. SMKN 2 Majalengka

Selasa, 28 Juni 2011

Sekolahku, Lingkunganku, Cucuku

Sekolah yang semua warganya mencintai dan melestarikan alam yang telah Allah swt berikan merupakan sekolah yang memiliki warga berdedikasi tinggi, berakhlakul karimah, berlandaskan Al – Qur’an dan cinta akan keindahan karena Allah swt mencinta keindahan. Itulah sekolah yang menerapkan dan mengutamakan keindahan dan kenyamananlah sekolah yang mau berusaha untuk mencapai kenyamanan bagi semua orang yang masuk ke sekolah tersebut, baik kenyamanan lingkungan saat masuk gerbang sampai ke ruang kelas ataupun kenyamanan dalam melaksanakan peraturan yang telah sekolah sediakan.
Lingkungan adalah aset berharga bagi kehidupan manusia seutuhnya karena dari lingkunganlah dan alamlah manusia dapat hidup berkat karunia yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada semua makhluk hidup didunia. Manusia yang memiliki akal dan pikiranlah yang mau memanfaatkan, menjaga, memelihara, dan melestarikan alam yang begitu indah panoramanya dipandang mata ini. Dan tidak mungkin manusia seperti itu akan terbersit dalam hatinya untuk menghancurkan alam ini dengan tangannya sendiri ataupun lewat tangan orang lain.
Peserta didik yang mau menjaga lingkungan sekolahnya berarti dia telah berusaha untuk melestarikan alam dan keindahannya untuk disiapkan nanti bagi cucu – cucunya kelak, karena apabila saat ini seorang peserta didik sudah menghancurkan alam berarti dia sudah tidak punya rasa kemanusiaan khususnya terhadap cucu – cucunya karena bukan tidak mungkin cucu – cucunya akan mati karena alam sudah tercemar hancur dan tinggal puing –puing keindahanlah yang ada dipandangan matanya yang membuat umur mereka semakin sedikit dikarenakan pasokan oksigen di alam sudah semakin berkurang disebabkan pengaruh globalisasi yang menghancurkan lapisan ozon di atmosfer yang membuat bahan – bahan partikulat masuk ke dalam bumi dan menembus kedalam tanah sehingga tanah tersebut tidak mampu berproduksi lagi sesuai yang diinginkan oleh manusia, bahkan makhluk hidupun sedikit demi sedikit akan punah oleh arus kerusakan dan pencemaran alam tersebut.
Marilah kita semua bersama – sama menjaga lingkungan alam dan panoramanya ini untuk kita persiapkan nanti bagi anak cucu kita kelak, mencabut 1 pohon saat ini berarti membunuh anak cucu kita secara perlahan – lahan. Menebang satu pohon sama halnya dengan mencekik dua orang di dunia


 SELAMATKANLAH BUMI KITA, JAGA LINGKUNGAN DAN ALAMNYA, UNTUK ANAK CUCU KITA DI KEMUDIAN HARI “
“ BACK TO BASIC AL – QUR’AN AS FOUNDATION OF THE MEN “

Jumat, 24 Juni 2011

Dialogeu About SBL and School Habit

Narrator        : Indra Subagja (Class XI AV 3) SMK Negeri 3 Kuningan
Narasumber   : H. Saepuloh, S. Pd (Coordinator SBL) SMK Negeri 3 Kuningan

1. What is the main purpose of implementing Environmental Cultured School System?

Answer: The main objective of the implementation of the SBL is " To provide a vehicle who is capable of supporting & real role within the efforts to cultivate human resources who civilized environment ".

2. How does the process of implementation of SBL at SMK Negeri 3 Kuningan?

Answer: The process of implementation of the SBL at SMK Negeri 3 Kuningan is to outreach to students and all citizens of SMK Negeri 3 Kuningan.

3. When the system SBL at SMK Negeri 3 Kuningan implemented?

Answer: SBL SMK Negeri 3 Kuningan started the school year from 2006/2007.

4. What constraints in implementing the school Cultured School System Environment?

Answer: 1. Lack of socialization of our party each year because students change - change that we need to disseminate to students every year. 2. Still not grow in SMK Negeri 3 Kuningan residents will maintain and cultivate awareness in the environment.

5. Who was instrumental in the implementation of the School of Environmental Cultured?

Answer: Management School and coordinator of SBL in this case is me. SBL coordinator could not move if the part of the school management does not fully support or do not give a decision.

6. Is there a target to achieve the ISO 14001:2004 Environmental Management System?

Answer: SMK Negeri 3 Kuningan target in 2013 has won the ISO 14001:2004 Certificate of EnvironmentalManagement Systems .

7. What the school hopes for the implementation of this system?

Answer: " The formation of generations of environmentally conscious and able to implement care in everyday life "

8. What is with the School Habit?

Answer: School Habit is Habit adopt of Work in the industry and into the Campus SMK Negeri 3 Kuningan has a habit of working in the industry meaning that was applied in schools. For example: in the industry allowed to bring food and means of communication at work, then at SMK Negeri 3 Kuningan applied that of Students SMK Negeri 3 Kuningan forbidden to carry communication devices (mobile phones) to the school environment and are forbidden to eat in the classroom. Besides, in industry there is a pedestrian pathway that is green belt, then SMKN 3 was already apparent between the green lane for pedestrians with the vehicle lane speed den 5 km / h at admission gates SMKN 3 to right in the Student Parking Lot.

9. Is there a relationship between the School Habit with Cultured School Environment?

Answer: School Habit is habit in maintaining the comfort and beauty of the environment while the SBL is a Culture citizen SMK Negeri 3 Kuningan in protecting the environment.

10. Companies / industries that apply anywhere Work Habit dilingkungannya company?

Answer: The new use is PT Astra Daihatsu Motor, which another party but many companies from PT ADM suppose
adopt PT Astra Honda Motor.

11. What is the difference between the School of Environment with School Adiwiyata Cultured?

Answer: SBL is the custom in the civilizing environment while Adiwiyata School is a concern for the environment. So that the SBL is a step towards Adiwiyata School.