Jumat, 22 Juli 2011

Tim SBL SMK Negeri 3 Kuningan

Ketua : H. Saepuloh, S.Pd
Divisi K7 : Masdenovel, S.Pd. , M.Pd
Divisi K7 : Drs. Edi Cahyadi
Divisi Lingkungan Hidup : Nurul Iman Rojaby, S.Si.





Dalam penerapannya, untuk menjadi sebuah sekolah memiliki budaya lingkungan maka diperlukan beberapa unsur penting yaitu :
a. Pengembangan Kebijakan Sekolah
Perlu dikembangkan sebuah atau beberapa kebijakan sekolah yang mendukung konsep sekolah berbudaya lingkungan antara lain:
  • memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di lingkungan lu ar sehingga belajar tidak selalu berlangsung di lingkungan sekolahnya sendiri
  • memfasilitasi terbentuknya simpul belajar non sekolah yang ramah kepada siswa misalnya melakukan pembelajaran di taman kota, RTH (ruang terbuka hijau), rumah sakit, pertokoan, pasar, bank, perkantoran, desa terpencil, serta mengakses masyarakat
  • memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengembangan potensi diri melalui seminar, lokakarya, pelatihan-pelatihan
  • mendukung siswa yang tidak mampu untuk tetap berprestasi melalui jalur teman atau orang tua asuh
  • marginal menyediakan nara sumber dari luar
b. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
Banyak kegiatan sehari-hari yang dapat dikaitkan dengan kurikulum di sekolah. Salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang dapat dilaksa nakan adalah implementasi dari beberapa kolaborasi mata pelajaran. Implementasi tersebut dapat dilakukan di luar lingkungan sekolah misal nya di sebuah desa atau kawasan tertentu dengan maksud dapat memberikan suasana berbeda dan menyenangkan serta memberikan pengalaman baru bagi siswa. Melalui sekolah alam, diharapkan siswa dapat belajar dari apa yang dia lihat, apa yang dirasakan serta apa yang ditemukannya di lingkungan. Dengan model pembelajaran bermakna seperti itu maka konsep-konsep yang ditemukan siswa selama proses pembelajaran dapat mempengaruhi daya retensinya. Pemahaman terhadap suatu konsep melalui pembelajaran di sekolah alam akan memiliki sifat dapat bertahan lebih lama atau bersifat meningkatkan daya retensi siswa. Kondisi tersebut pada kenyataannya dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki siswa.
Ketika siswa melalui pembelajaran melakukan aksi lingkungan berupa penanaman, maka di samping siswa terampil melakukannya (vocational skill) juga didapati kemampuan siswa untuk mengenal lebih dalam struktur anatomi maupun fisiologis tanaman tersebut. Selain itu dengan teknik belajar di lingkungan, diharapkan akan terbentuk jiwa -jiwa yang memiliki kesadaran tinggi terhadap permasalahan lingkungan. Generasi yang kreatif, inovatif dan peka terhadap isu-isu lingkungan akan tercipta dengan sendirinya.
Beberapa aksi lingkungan yang dapat dilakukan siswa dalam konsep sekolah berbudaya lingkungan antara lain:
  • kegiatan penghijauan
  • bakti sosial lingkungan
  • jalan sehat
  • kerj a bakti lingkungan
  • melakukan konservasi lahan dengan penanaman
  • pemeliharaan tanaman
  • pemanfaatan kebun bibit
  • Penambahan koleksi kebun sekolah untuk proses pembelajaran keanekaragaman hayati
  • Perbanyakan tanaman untuk melatih life skill
  • Konservasi flora & fauna
  • pengenalan konsep konservasi
  • implementasi PLH
  • melaksanakan ”Gugur Gunung” atau bedol sekolah
  • monitoring dan evaluasi.
  • penilaian antar kelas.
  • lomba barang bekas
  • mengembangkan produk olahan bahan sekitar
  • mengadakan pameran produk kreasi siswa
Dalam pelaksanaan program gugur gunung, tidak hanya siswa yang mengikuti kegiatan tersebut tetapi seluruh komponen sekolah wajib ikur serta dengan tujuan memberikan bekal life skill baik kepada siswa, guru, karyawan dan pesuruh. Melalui kegiatan seperti itu, diharapkan seluruh warga sekolah dapat memiliki pemahaman yang sama tentang visi dan misi sekolah.
c. Pengembangan Kegiatan Partisipatif
Untuk membangun sebuah komitmen menjadikan sekolah berbudaya lingkungan, maka peran stake holder tidak dapat diabaikan. Perlunya melibatkan peran serta aktif komite sekolah untuk mendukung semua kegiatan.
Keterlibatan komite sekolah dalam bentuk:
  • pendanaan
  • dukungan atau support dalam pelaksanaan program-program sekolah misalnya kegiatan implementasi mata pelajaran, pembelajaran di alam dan sebagainya
  • keterlibatan secara langsung dalam aktivitas sekolah
  • mediasi antara sekolah dengan instansi terkait atau dengan pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha
  • keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran, mengevaluasi pelaksanaan program-program sekolah, monitoring seluruh kegiatan sekolah
  • mendorong akreditasi sekolah untuk mencapai sekolah bermutu
  • mendorong pelaksanaan sertifikasi guru guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui aset guru yang profesional
  • mendorong sekolah untuk menyajikan program pendidikan yang lebih beragam dan relevan
  • dukungan untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan terdekatnya sehingga siswa mampu menangani semua isu lokal disekelilingnya
d. Pengembangan Pengelolaan Sarana Prasarana
Dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan, pengelolaan sarana prasarana menjadi sesuatu yang sangat penting. Penggunaan dan pengadaan atau pengembangan sarana prasarana yang efektif dan efisien serta tepat guna harus menjadi acuan utama.
Untuk mendukung terciptanya sekolah berbudaya lingkungan maka konsep berikut perlu diterapkan di sekolah, yaitu:
  • melakukan penghematan semua sumber daya di sekolah, listrik, air
  • penghematan penggunaan alat tulis kantor
  • pemanfaatan barang bekas untuk pembuatan media pembelajaran
  • pengelolaan sarana prasarana yang tepat guna
  • pengelolaan sarpras secara efisien dan efektif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar